SEMAR GAUNG

Guntur Nur Puspito, Penerima Hibah Seni PSBK 2019 akan tampil dalam Jagongan Wagen edisi keenam di tahun ini. Karya yang diberi tajuk “Semar Gaung” tersebut akan dipentaskan pada 30 Agustus 2019 di PSBK.  Karya ini merupakan upaya seniman untuk membaca sosok Semar dalam realitas hari ini.

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) bersama Bakti Budaya Djarum Foundation meneruskan investasi panjang dalam dukungan fasilitasi ruang presentasi karya seniman muda melalui program Jagongan Wagen. Pada edisi keenam Jagongan Wagen di tahun ini, PSBK menghadirkan penerima Hibah Seni PSBK. Fasilitasi akses studio penciptaan, kuratorial dan produksi pementasan berlangsung di kompleks art center PSBK  sejak pertengahan Agustus 2019.

Guntur Nur Puspito, lahir di Parigi (Sulawesi Tengah. Tahun 1998 masuk Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta dengan instrument mayor biola, dibawah bimbingan Pupik Yeti Vivi Yanti & Sapta Ksvara Kusbini. Lulus dari SMM tahun 2001 & melanjutkan studi S-1 ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dibawah bimbingan Oni Krisnerwinto S.Sn., & Drs. Djunaedi. Lulus dari ISI tahun 2008. Menekuni aransemen  semenjak memasuki bangku perkuliahan, dibawah bimbingan Drs. RM. Singgih Sanjaya M.Hum., dan Oni Krisnerwinto. Tujuh tahun terakhir mulai menekuni musik dalam penggarapan sebuah karya, baik karya sendiri maupun kolaborasi.

Semar Gaung adalah pertunjukan musik kolaboratif yang digagas oleh Guntur Nur Puspito atas pembacaan ulang terhadap sosok Semar dengan mengkontekstualisasikannya pada realitas hari ini. Dalam karya ini, Guntur berkolaborasi dengan Bayu Aji Nugraha (Dalang), Asita Kaladewa (Seniman Pantomime), Kinanti Sekar Rahina (Penari), dan Muhammad Shodiq (Penulis Naskah). Pertunjukan kali ini tertuju pada dialog tentang pengetahuan hari ini, seperti halnya pitutur Semar, tak lagi didengar. Suaranya menggaung, terlontar, membentur pada kepala-kepala beku dan kembali pada dirinya sendiri.

Semar adalah salah satu karakter dalam pewayangan yang kuat dan luas pengetahuannya. Sehingga dia dijuluki pamong para kesatria. Semar adalah simbol pengetahuan yang menjadi rujukan. Tapi zaman sudah berubah. Setiap manusia sudah mampu mengakses ‘pamong (guru)’-nya masing-masing. Sesederhana membuka layar gawai dan menemukan sumber-sumber; rujukan-rujukan daring disejajarkan dengan guru. Atau lebih jauh lagi, menganggap semua yang berasal dari daring mempunyai bobot pengetahuan yang sama. Dalam konteks Semar, ini seperti membayangkan tentang  apa yang terjadi  jika murid-murid Semar tidak lagi menjadikannya sebagai rujukan sumber pengetahuan. Ruang-ruang yang mulanya bersifat nyata hari ini disejajarkan dengan ruang-ruang yang bersifat maya.

Dalam pertunjukan kali ini seniman ingin mengajak penonton untuk merenungkan kembali perihal kebiasaan kita saat ini dalam mengakses pengetahuan melalui dunia maya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia maya telah membukakan akses pengetahuan seluas-luasnya dan tanpa batas, namun di lain hal dunia maya juga telah menghilangkan peristiwa tatap muka dalam mengakses pengetahuan. Bahwa dalam peristiwa tatap muka ada hal lain yang kita dapatkan yaitu belajar tentang adab (attitude). Sedangkan akses ilmu pengetahuan di dunia maya seringkali absen akan hal tersebut.

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email
Close Menu
subscribe icon
Stay connected with PSBK.