UMBUL DONGA Peringatan 1.000 Hari Berpulangnya G. DJADUK FERIANTO

Kira-kira hampir 3 tahun setelah berpulangnya maestro musik Djaduk Ferianto, Kuaetnika – kelompok musik yang didirikannya beserta musisi yang ada di dalamnya seakan-akan runtuh tanpa daya. Tanpa orang yang ada di depan lagi, tanpa ada kreator yang selalu gelisah dengan karya musik, tanpa motivator musik bagi cikal bakal yang ingin menggeluti bidang musik, dan masih banyak lagi tanpa…, tanpa…, tanpa lainnya. Belum genap 100 hari meninggalnya, badai COVID-19 datang melanda dan meluluhlantakkan segala bidang terutama di sisi dunia pertunjukan yang membuat KO semua insan seni pertunjukan. Hingga pada akhirnya, mereka hanya bisa berbuat sesuatu dengan harapan bila prahara reda kelak bisa dimunculkan, nyelengi karya. Atau alih-alih dengan mengadakan pertunjukan secara online. Demikian pula halnya dengan Kuaetnika.

Pasca berpulangnya Djaduk Ferianto dan bahkan sebelum pandemi datang, Kuaetnika sudah mengerjakan pekerjaan rumah yang ditinggalkan oleh almarhum, yaitu membuat komposisi dari 2 melodi yang disiulkan dan direkam dengan ponsel saat almarhum berada di Afrika Selatan. Jadilah 2 komposisi yang diberi judul Angin dan Dua Benua. Harapannya, kedua komposisi tersebut akan menjadi komposisi andalan yang akan dibawa kembali ke Afrika Selatan pada acara festival jazz. Namun akhirnya batal diselenggarakan karena situasi pandemi. Dua komposisi Angin dan Dua Benua hanya berkesempatan dipresentasikan saat peringatan 100 hari meninggalnya Djaduk Ferianto pada acara ‘Ibadah Musikal’ yang diselenggarakan di Concert Hall – Taman Budaya Yogyakarta, 20 Februari 2020.

Kini sudah 1.000 hari Dajaduk Ferianto berpulang. Beberapa karya Kuaetnika sepeninggalnya sudah dibuat, jadi dan sudah terkumpul dalam satu album, namun karena adanya situasi yang belum memungkinkan maka belum sempat untuk dirilis. Dan melalui Umbul Donga peringatan 1.000 harinya ini,  selain akan berdoa bersama dan mengenang karya-karyanya, Kuaetnika juga akan memperkenalkan salah satu komposisi sekaligus akan merilisnya. Komposisi tersebut diberi judul “PANUNTUN”. Panuntun mempunyai persamaan dengan seorang pemimpin, orang yang di depan yang bisa ditiru hal-hal baiknya, seperti halnya ing ngarsa sung tuladha istilah yang dipakai di pendidikan Taman Siswa. Demikian halnya dengan judul komposisi ini memang secara khusus didedikasikan kepada Djaduk Ferianto sebagai seorang pemimpin di Kuaetnika. Sosok figur yang selalu dekat dengan anggota Kuaetnika, teman, kolega dan siapa saja yang pernah bersinggungan dengannya. Panuntun secara khusus dibuat dengan memasukkan olah vocal Endah Laras yang juga pernah merasakan gojlokan tempaan ilmu tentang musik darinya.

Panuntun, merupakan salah satu dari sembilan komposisi yang sudah dibuat yang rencananya akan dirilis dalam sebuah album dengan judul MANITIK. Yang dimaknai dengan mencari jejak.

Dalam artian, mencari jejak-jejak yang pernah ditinggalkan selama bergelut dengan dunia musik. Selama kurang lebih 25 tahun bergumul bersama dalam pencarian, perdebatan dan pergulatan dalam olah musik, tentu tidak sedikit yang sudah didapat darinya. Pembuktiannya adalah di Manitik. Kumpulan 9 komposisi dengan rangkaian karya baru disertai komposisi karya Djaduk Ferianto yang dikerjakan dan ditafsir ulang Kuaetnika ala kekinian. Manitik, direncanakan akan dirilis saat Ngayogjazz 2022 yang akan datang.

Salam,
Kuaetnika

*******

KOMPOSISI UMBUL DONGA
1000 HARI DJADUK FERIANTO

  • Jawadwipa
  • Pesisir
  • Swarnadwipa
  • Panuntun
  • Merapi Horeg
  • Tresnaning Tiyang

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email
subscribe icon
Stay connected with PSBK.